Tampilkan postingan dengan label dentist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dentist. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 21, 2015

Stairs: Sebut saja 'bulan'

Bismillahirrahmaanirrahiim ^_^

#Rara


Jangan dipikirkan atau dirasakan, tapi tulislah dan bacalah. Meskipun tidak bisa lari dari kenyataan tentang empedu hitam yang kamu miliki sekarang. Ada banyak cara untuk mengatasinya. Jangan malu, jangan bimbang, tegaslah seperti biasanya. Sama seperti kamu mematahkan batunya, atau ketika kamu luluhkan besinya, atau juga kamu buat dia mendekat dengan sendirinya. Sudah pernah kan? Makanya, belajarlah dari yang sudah pernah kamu temukan. Jangan sedih kalau kamu dibilang kebanyakan belajar, itu tugas kamu bukan?

     Kutipan di atas kutemukan pada penelusuranku di dalam satu-satunya perpustakaan di sudut kota Praha. Awalnya aku pikir ini perpustakaan yang menarik biaya peminjaman, karena buku-buku di sini baru semua. Aku salah menilai, di balik bilik ke tujuh lemari buku sebelah kanan ada pintu menuju koleksi buku lama. Aku menemukan kutipan itu dalam buku itu. Buku ini berjudul 'bulan'.

     Sebenarnya aku belum paham kenapa judul bukunya pakai tanda kutip satu. Mungkin penulisnya tidak ingin bersikap terlalu terbuka. Tapi aku cukup paham kenapa judulnya bulan. Ketika membaca buku itu aku seperti membaca sebuah perpustakaan. Iya, perpustakaan yang di dalamnya ada perpustakaan. Bab yang paling menolongku untuk memahami inti cerita buku ini adalah Bab 3. Sejak itu aku memutuskan memberikan panggilan sayang pada buku ini dengan Perpustakaan bulan Mei. Ada bab yang sangat membuatku terkagum-kagum, yaitu bab 10. Sejak itu aku sangat suka sekali dengan bulan desember. Desember adalah bulan yang memberikan aku pelajaran, inspirasi, pemahaman intelektual, wawasan sikap dan perilaku, serta sedikit benih otak kriminal. Selesai sidang pertanggung jawaban bulan desember, aku jadi banyak belajar tentang perjuangan. Aku benar-benar belajar di bulan desember.

      Perpustakaan bulan Mei menjelaskan padaku cara mengagumi bulan desember dengan benar. Ada cerita anak SMP yang sangat membuatku terpesona, ini dipaparkan pada subjudul pertama dalam bab 3 buku tersebut. Aku mencoba memahami isinya. Kalau kamu masih penasaran juga, biar aku beri bocoran sedikit saja ya. Coba dekatkan telingamu ke sini, aku tidak rela jika yang lain mendengarkan, kecuali Tuhan kita.
"Ikhlas dan sabar adalah perumpamaan yang paling teduh. Pernah mendengar cerita tentang Matahari dan Bumi? Katanya jika mereka saling berdekatan pasti membinasakan. Makanya aku sebut ikhlas dan sabar itu teduh, karena tanpa jarak akan terlalu terang bahkan silau. Namun, upaya yang bisa kita lakukan adalah menutup mata, berpaling, atau menjauh dari terang yang berlebihan itu. Melakukannya bukan berarti kamu benci cahaya, kamu sangat terbantu olehnya, tapi kamu mencoba menjaga dirimu dari hal yang disebut dengan binasa."

Senin, November 03, 2014

Stairs: Khasnya Carabelly

Bismillahirrahmaanirrahiim ^_^


Zeki R.A.

      Tulisan ini bisa dibilang sebagai tanda terimakasih saya sekaligus pidato resmi atas rilis nya blog baru saya. Blagu banget ya? biarlah asal semakin menambah semangat untuk berbagi tulisan. Terkadang, kita takkan tahu kalau diam-diam ada yang terinspirasi, tersenyum, ataupun menangis karena tulisan kita. Inilah salah satu alasan kenapa banyak orang yang hobby menulis mendapatkan kepuasan tersendiri untuk menulis apa saja yang ingin dia tulis. Ngga, sebenarnya sayanya saja yang ngebet pengen nulis.  

      Blog baru riskiagustin.worldpress.com dibuat oleh teman saya Noryunita, terimakasih ya Yuyun *peluk Yuyun*. Waktu itu saya sudah berniat untuk membuat blog baru, tapi ternyata laptop yang saya pakai tidak bisa membuka web wordpress. Saya coba download aplikasi wordpress di playstore dan  registrasi di situ juga tetap tidak bisa. Saya hampir menyerah. Tapi Yuyun tetap memberi saya semangat, bahkan menawarkan bantuan untuk membuatkan blog baru itu. Untungnya dia orang yang baik dan perhatian, jadi dia buatlah blog baru itu. Namun, saya merasa aneh jika blog yang akan saya isi tulisan-tulisan saya kelak tersebut malah faktanya buatan orang lain. Jadilah saya meminta Yuyun untuk membuat sapaan tentang blog itu sebagai keterangan, kalau blog itu bukan dibuat sendiri oleh saya. Awalnya saya khawatir dia menolak untuk menambahkan tulisan perdana blog tersebut, lebih tepatnya takut kalau dia terpaksa. Karena dia itu tidak mudah untuk mengatakan tidak. Tapi saya bersyukur, tulisan yang dia tulis di blog baru saya itu membuat saya semangat untuk menulis tulisan ini. Awalnya saya ragu, apakah blog itu akan terurus? blog yang ada saja jarang diurus? saya lebih sering menulis di word dan menyimpan kata-kata yang saya rangkai dengan apik menjadi harta karun. Sepertinya saya tidak boleh terus-terusan begitu. Akhirnya saya memutuskan memakai blog baru itu untuk berbagi puisi atau kata-kata positif yang bisa jadi pengingat saya sesuai dengan yang dijelaskan oleh tulisan pembuka dari teman saya ini. Saya akan lanjutkan seri fiksi Rara dan zeki R.A. untuk inspirasi bagi diri saya di masa depan.

*****
 
Rara

"Dokter gigi adalah perpaduan yang sempurna antara kecerdasan, kecantikan, keperkasaan, dan tenaga seperti kuli." Andrea Hirata

      Saya belum pernah membayangkan kalau saya akan berada di tempat ini, di tempat saya menimba ilmu, PSKG. Pertamakali saya hadir di lingkungan ini, saya ragu, apakah benar saya ditakdirkan untuk belajar ilmu kedokteran gigi? Apakah kemampuan saya memang ini? Alhamdulillah, saya sudah yakin kalau inilah saya. Passion saya adalah kedokteran gigi, mungkin. Sejak teringat kemampuan saya ketika preparasi gigi, memodel max, membuat kontur, dan mencetak model study saya semakin yakin. Beberapa di puji dosen dan membuat saya semangat, contohnya hasil cetakan model studi klas 2 premolar, fixed fixed bridge rahang bawah, dan beberapa preparasi gigi lainnya. Saya hanya lakukan apa yang saya suka, yaitu seni. Tidak bisa dibayangkan jika hal yang sangat kau suka malah menghasilkan uang kan? Ini indikasi kalau saya condong memiliki ciri bidang konservasi.

      Saya hanyalah anak biasa, berada di keluarga yang sederhana, memiliki pola pikir konservatif, dan sangat mencintai cara saya sendiri ketimbang ikut-ikut orang lain. Awalnya saya termakan omongan orang banyak dan langsung percaya: 
- Dokter gigi itu biasanya kaya raya, tambal gigi aja 250 ribu
- Mahasiswa kedokteran gigi itu biasanya orang-orang berada, punya standar tinggi
- Mahasiswa kedokteran gigi itu biasanya suka mejeng dan nongkrong
- Umumnya dokter gigi wanita itu pasti cantik
- Biasanya anak kedokteran gigi itu glamor dan kaya
- Biasanya anak kedokteran gigi itu punya gadget yang mahal-mahal
dan lain-lain yang menandakan kalau bergelut dibidang ini identik dengan segala hal yang mewah dan wah. 

      Saya mulai berpikir, apakah ini tempat saya? bagaimana jika saya tidak bisa beradaptasi? Saya jarang dandan. Saya juga rada tomboy. Saya bukan tipe orang yang mainstream dan sangat konservatif. Saya juga anti mengubah prinsip hidup. Mungkinkah saya tepat berada di sini? Ya, ternyata saya ditakdirkan mencintai lingkungan ini. Namun dengan sudut pandang yang lain. Jika Andrea Hirata mengatakan dokter gigi itu cerdas, cantik, perkasa, dan mampu melakukan hal berat. Saya mulai setuju. Menjadi dokter gigi itu harus cerdas. Mereka belajar fisiologi, biokimia, anatomi,farmakologi, dan sebagainya dalam satu blok. Itupun hanya superfisial, padahal ilmu ini sangat diperlukan ketika sudah berada di tengah masyarakat. Akhirnya kita akan belajar mandiri untuk memperdalamnya. Bayangkan, ketika seorang dokter gigi mengabdi pada desa terpencil, mereka dianggap masyarakat sebagai dokter--akhirnya tanpa pandang bulu masyarakat memerlukan ilmunya sebagai dokter, maka ilmu kebidanan, keperawatan, dokter umum, tekniker, dia lakukan. Karena tidak semua masyarakat bisa membedakan. Mereka hanya tahu kalau dokter ya dokter, yang penting bisa mengobati.

      Nah, bagaimana dengan kecantikan? Saya ragu hal ini ada pada diri saya yang sekarang, tapi saya yakin kalau saya memang sudah punya gelar dokter gigi. Ini berdasar pada rujukan kalimat di atas. Nyeheheh. Memang, kebanyakan dokter gigi wanita yang saya lihat itu cantik-cantik, saya juga sering takjub, ini dokter cantik amat, apakah semua dokter gigi cantik begini? Tapi esensi cantik yang saya yakini bukan cantik fisik, tapi kharisma. Banyak dokter gigi wanita yang saya temui, kecantikan mereka terlihat lewat ilmu dan sikap yang dipancarkannya. Entah kenapa aura itu hadir setiap kali saya melihat dokter gigi wanita. Bukan karena permata yang mereka tanam di gigi, atau braces yang tersusun rapi seperti pagar di gigi, tapi mindset keindahan yang mereka miliki selama belajar di kedokteran gigi terpancar begitu saja tanpa disadari.

      Perkasa, saya percaya kalau untuk hal ini. Bagaimana bisa begitu? Jelas sekali, karena berada di dental chair itu sangat capek. Berdiri, duduk, berdiri, duduk, untuk menangani pasien. Yang skillab 3 jam saja rasanya pegal sekali. Apalagi jika praktek nanti? Makanya kami berlatih membiasakan diri. Seperti kata dosen saya, dokter gigi itu adalah pekerja medis yang paling sering pijet. 

      Tenaga kuli? itu benar. Karena upaya menarik gigi molar itu sangat perlu tenaga yang banyak untuk tercabut. Belum lagi kita harus upayakan tenaga itu terorganisir, jangan sampai penarikan itu membuat rahang pasien fraktur, atau membuat akar giginya patah, atau melukai mukosa pasien, atau melukai diri kita sendiri. Gigi yang dicabut haruslah dalam keadaan utuh. Apalagi untuk pembuatan gigi tiruan, ini adalah saat-saat paling berasa seperti kuli. Ada palu, pisau gipsum, dan gipsumnya. Berasa seperti ingin membuat bangunan rumah. Bedanya ini gipsum, tapi kalau rumah itu pakai semen dan bata.

      Ini yang disebut khas dari seorang dokter gigi, apa yang kita miliki di atas akan kurang lebih sama dengan dokter-dokter gigi lain. Tapi bagaimana jika dokter gigi ini sekalian aktivis da'wah? Memiliki passion lain juga yang sangat dicintainya yaitu berjuang untuk agama Allah? Apalagi menjadi akhwat yang memperjuangkan islam kaffah, saya rasa jarang sekali. Jika ada akhwat yang seperti ini, saya sangat bersyukur. Tolong berikan kontaknya pada saya, agar saya bisa berdekatan dengan orang ini. Karena saya sudah berkali-kali mencari di google, akhwat dokter gigi atau mahasiswa KG yang berjuang untuk syariah dan khilafah ada di mana dan sedang berbuat apa *eh*--ada di mana dan bagaimana perjuangan mereka dalam da'wah. Namun, baru 2 orang yang saya temukan. Itupun dari usaha yang panjang, hanya tahu nama saja, tidak pernah bertemu, dan dia sudah jadi dokter gigi serta memiliki suami pula. Yang satu di Medan, satunya lagi di Sumatra Utara. Saya belum menemukan yang seumuran dengan saya dan sama-sama belum bersuami. Ini seperti keunikan cusp Carabelly, unik sekali bukan? Hanya akan ditemukan pada gigi 36 dan 46. Begitu juga dengan akhwat KG yang aktivis da'wah islam kaffah, hanya akan bertemu pada tempatnya saja, takkan bertemu di tempat yang lain. Pasti ngaji di tempat yang sama, dan belajar bidang yang sama. 

      Jadi, setiap orang atau profesi memiliki keunikan. Jika penjelasan mengenai dokter gigi dari Andrea Hirata itu unik, maka akan bertambah lagi limited edition ketika ditambah dengan tugas lain. Yaitu akhwat dan pejuang syariah dan khilafah. Meski berjuang di lingkungan masing-masing, tetaplah percaya bahwa kita tidak sendirian, kita tidak aneh, kita tidak juga terisolir (terasing). Hanya karena menjadi minoritas yang berjuang di bidang ini, atau bahkan satu-satunya yang berjuang. Jangan sampai futur hanya karena sendirian. Merasa tidak nyambung ketika berdiskusi dengan yang berbeda ilmu pengetahuan. Setidaknya kita yakin kalau kita istimewa, seperti khasnya cusp Carabelly. Menjadi peneduh di antara keputus asaan.

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
Definisi asing dalam hadits di atas bukanlah mutlak diberikan bagi seorang yang tampil beda di tengah masyarakatnya. Akan tetapi, asing di sini bermakna seorang muslim yang berusaha melaksanakan syariat Islam dengan benar ketika masyarakat melupakannya. Hanya orang yang tahu letak Carabelly yang akan mengerti kalau Carabelly itu unik. Terletak di tempat yang takkan berpindah, dan yang paham anatomi gigi saja yang akan menemukannya. Cerdas, Cantik, Perkasa, dan Bertenaga Kuli itu seperti 3 molar yang tersusun (memiliki 2 radiks, bukal groove, dan inklinasi akar condong ke distal), tapi tambahan status Akhwat sekaligus pejuang agama Allah itu Khas seperti Carabelly. Hanya orang yang mengerti di mana dan yang mana kekhas an itu ditemukan pada akhwat kedokteran gigi. Terakhir, saya masih tetap menyimpan 3 nama adik tingkat yang sudah saya anggap saudari tersayang saya di pskg, semoga mereka bisa maju ke tahap khas Carabelly ini. Aamiin yaa Robbal'alamiin.



 Zeki R.A.
       Cerita Rara di atas menjelaskan pada kita, bahwa setiap orang memiliki pilihan untuk menjadi unik saja, atau menjadi unik yang istimewa. Terkadang energi dan semangat itu bisa muncul ketika seseorang mulai memikirkan hal-hal detail terkait dirinya sendiri. Dan ini sering terjadi. Wanita, jika ingin mencapai suatu pencapaian pada dirinya pasti akan diupayakan sebisanya. Misal, ingin menjadi istimewa itu adalah cantik. Nah, kalau istimewa itu cantik, banyak sekali wanita cantik di dunia ini. Apalagi kalau kita sempatkan berjalan di mall beberapa menit, pasti sudah ada banyak sekali wanita cantik yang akan kita lihat. Lalu jika pencapaian istimewa itu adalah pintar, banyak sekali wanita pintar di dunia ini. Setiap institusi memiliki wanita cantik dan berprestasi dengan berbagai bakat. Namun, bagaimana jika pencapaian istimewa itu adalah shalihah? yang jelas menjadi shalihah dan berjuang untuk mencapai gelar itu tidaklah mudah. Ada upaya tambahan yang mungkin saja tidak biasa untuk dipilih oleh kebanyakan orang. 
"Yang mau dan bersedia menjadikan da'wah sebagai pekerjaan sampingan saja sedikit, apalagi yang menjadikan da'wah sebagai poros utama hidupnya?"

Nah, menjadi limited edition itu bukan semata-mata ingin menjadi istimewa di antara makhlukNya. Tapi memang sebagai wujud tanggungjawab kita akan perintahNya. Memperjuangkan islam kaffah sekaligus berusaha melaksanakannya adalah konsekwensi keimanan kita sebagai seorang muslim. Maka dari itu, bisa jadi esensi untuk berjuang di jalan da'wah bukan sekedar sikap menjemput keistimewaan, tapi memang kewajiban. Karena konsekwensi keimanan adalah melakukan amal shalih. Bukti bahwa kita beriman adalah mempercayai dan meyakini dalam hati sekaligus melakukan perbuatan (amal)nya juga. Karena kata 'dan' itu adalah kata hubung yang mengartikan bahwa aktivitas yang disisipi 'dan' adalah aktivitas yang dilakukan bersamaan.

"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." Q.S. At Tiin: 6. 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” Q.S. Al Kahfi: 107 – 108.

wallahu'alam bissawab

Sabtu, Oktober 18, 2014

Lacryma: Biru x Blue x Bertemu

Bismillahirrahmaanirrahiim ^_^

Rara

      Aku berjalan di antara bilik lemari perpustakaan. Ada sedikit harapan jika nanti akan bertemu dengan bacaan yang mengobati dukaku. Banyak hal kupikirkan, beberapa yang lain terkait masalah kuliah dan cita-citaku menjadi penulis. 
"Ra, kamu udah berapa lama mondar-mandir di sini?" sapa kak Luna padaku.
"Sudah dari pagi kak. Ehehe. Kakak sedang apa?" ucapku.
"Aku sengaja mengamatimu loh, tahan juga kamu di tempat begini. Ini minimajalah untukmu, siapa tahu kau suka isinya." Aku sambut majalah itu dari tangan kak Luna. Kak Luna pergi sambil melambaikan tangan. Setelah beberapa menit kubaca salah satu cerita di majalah mini itu, aku  mulai membuat pola pikir baru tentang studi dan cita-citaku.



Sayf Muhammad Isa

Semua berawal ketika saya menancapkan cita-cita untuk menjadi seorang penulis semasa SMA kelas 2. Saking cintanya saya kepada cita-cita itu, saya menyatakan diri bahwa saya sudah menikahi cita-cita itu, dan ia sudah menjadi istri saya (mungkin ini penyakit gila nomor 12, hehe). Lebih dari itu, saya mencukupkan diri saya hanya dengan cita-cita itu, dan hanya ingin hidup dari situ. Untuk mendeklarasikan cita-cita ini, saya sampai mendaki sebuah bukit di dekat rumah saya hingga ke puncaknya, kemudian saya teriakkan cita-cita itu kepada dunia. Bahwa saya hanya ingin menulis sampai saya tidak bisa menulis lagi, dan saya hanya ingin hidup dengan menulis.

Karena saya sudah menancapkan cita-cita itu, ada konsekuensi yang harus saya jalani. Hidup saya menjadi susah secara ekonomi. Saya jadi miskin dan kere, hingga kemana-mana saya harus jalan kaki, karena nggak punya ongkos buat naik angkot. Saya juga harus puasa daud, sebab saya sulit menemukan makanan. Untuk sekadar survive, saya jualan koran dan jadi tukang fotokopi.

Saat menjalani semua itu, saya terus menulis, setiap hari, menulis apa saja. Hingga kemudian saya membangun sebuah media indie bersama kawan-kawan saya. Media ini kami namai D’Rise (pada masa selanjutnya, D’Rise ini terus berkembang atas bantuan guru-guru kami). Saya menumpahkan hampir seluruh cita-cita dan hidup saya untuk menulis bersama D’Rise. Saya mencukupkan diri hanya untuk mengembangkan media ini. Dan secara materi, saya serta kawan-kawan hampir tidak mendapatkan apa-apa dari sini, namun D’Rise telah kami jadikan seperti anak kami sendiri.

Saya dan kawan-kawan saya sesama aktifis Islam ideologis sering kali membicarakan soal pernikahan saat itu (ngaku deh, pasti kawan-kawan juga sering ngobrolin dunia per-akhwat-an. Yang akhwat juga pasti sering membahas dunia per-ikhwan-an). Gara-gara obrolan-obrolan itu, saya yang saat itu masih lugu (lucu-lucu guoblog), juga tertular semangat untuk menikah. Maka kemudian saya mencoba untuk melamar seorang akhwat.

Saya pun mengontak seorang akhwat yang di mata saya adalah seorang akhwat yang baik. Ketika saya menyampaikan niat baik saya untuk melamarnya, dia malah menolak saya dengan amat menyakitkan. Saya rasa dia tahu latar belakang ekonomi saya, karena lontaran-lontaran dia yang menyakitkan itu mengarah ke sana.

Karena penolakan yang menyakitkan itu, saya jadi agak terguncang. Saya jadi apatis terhadap pernikahan, dan bahkan bersikap tidak peduli. Saya sempat berpikir, mungkin orang susah macam saya tidak akan pernah menikah. Tapi biarkan sajalah, saya toh sudah menikah dengan cita-cita saya.

Hidup terus berlanjut, saya terus menulis, dan setelah terjadinya peristiwa itu, Allah swt menitipkan sebuah inspirasi kisah novel di kepala saya. Bukan cuma itu, seluruh langkah membuat novel tergambar di benak dari awal sampai selesai. Padahal saya belum pernah membuat novel sebelumnya, dan tidak ada seorang pun yang mengajari saya. Maka kemudian saya telusuri terus petunjuk itu (mungkin ini yang disebut ilham), hingga saya berhasil menyelesaikan novel itu dalam waktu tujuh bulan. Dan novel itu saya juduli “Sabil”. Tak lama kemudian, Sabil diterima terbit di Mizan yang dikemas dalam bentuk dwilogi. D’Rise pun semakin berkembang, dan telah terbit secara nasional. Saya terus menulis untuk D’Rise sampai hari ini. Lah terus cerita jodohnya di bagian mana nih? Hehehe, sabar, ini dia bagian cerita tentang jodohnya.

D’Rise punya dua orang anggota redaksi dari kalangan akhwat. Salah satunya pakai nama pena Alga Biru. Nah si Alga Biru ini kabarnya tinggal di Medan, dan dia menangani rubrik khusus cewek di D’Rise. Dia bekerja dari jarak jauh. Caranya, pemred D’Rise, mas Guslaeni Hafiz, mengirimkan TOR tiap rubrik kepada semua kru redaksi, termasuk kepada si Alga Biru ini. Kemudian setelah naskahnya yang ditulis berdasarkan TOR tadi selesai, langsung dikirimkan saja ke email redaksi.

Sebelumnya saya tidak mengenal dan tidak punya hubungan apa-apa dengan si Alga Biru ini. Tapi saya membaca tulisan-tulisannya baik fiksi maupun nonfiksi yang masuk ke redaksi D’Rise, dan saya tahu bahwa dia punya jam terbang lebih tinggi dalam menulis daripada saya. Maka saya berpikir untuk mengirimkan novel Sabil saya kepadanya, untuk meminta pendapat ilmiah tentang novel saya tadi. Saya tidak hanya mengirimkan novel ini kepadanya saja, tetapi saya juga mengirimkan Sabil kepada beberapa kawan yang lain untuk minta pandangan kawan-kawan (termasuk salah satunya adalah Pak Salman Iskandar, guru menulis saya). Maka kemudian saya kontak si Alga Biru via Facebook. Dia merespon, lantas saya kirimkan novel saya kepadanya. Saya tidak punya feeling apa-apa.

Beberapa hari kemudian Alga Biru mengirimkan semacam komentar tentang novel saya. Namun ternyata bukan hanya itu, dia juga mengajukan sebuah ajakan untuk menikah dengan saya. Waduh, saya kaget!!! Gileee bener, saya kaget. Yang muncul kemudian di dalam diri saya adalah rasa apatis dan tidak habis pikir. “Ini akhwat apa udah gila?!” hehehe… sori ya Alga Biru.

Bagaimana mungkin saya tidak berpikir begitu, sebab ajakan ini adalah sebuah ajakan yang besar dan tidak boleh dipermainkan. Tapi ternyata ini kenyataan, ada seorang akhwat yang mengajak menikah kepada saya, padahal akhwat ini gaib, dia tinggal jauh di seberang lautan, kenal aja nggak, ketemu aja belum pernah, ngeliatnya aja belum pernah, lah tau-tau ngajakin nikah. Ini becanda kali!!!

Tapi saya hargai ajakan si Alga Biru dengan menyampaikan tentang keadaan saya, bahwa saya ini orang miskin dan kere yang pengen jadi penulis. Karena saya lebih sering nggak punya uang, jadi kemana-mana saya jalan kaki. Saya juga jarang makan, jadi agar “jarang makan” itu menjadi pahala, saya sering melaksanakan puasa daud. Keluarga saya juga termasuk kalangan elit (ekonomi sulit), adik saya banyaknya bererot. Saya ceritakan kenyataan tentang diri saya. Dengan kata lain, saya menyampaikan semua ini untuk menakut-nakuti si Alga Biru agar menarik kembali ajakannya itu. Hehehe, sori ya Alga Biru. Tapi apa yang terjadi, Alga Biru tidak peduli.

Alga Biru tetap pada pendiriannya untuk mengajak saya menikah. Saya jadi berpikir lagi tentang semua ini. Saya jadi banyak merenung, apa yang mesti saya lakukan? Saya minta petunjuk kepada Allah, tentu saja. Kemudian bertanya kepada kawan-kawan yang sudah berpengalaman. Satu hal yang masih mengganjal di hati saya adalah, apakah orang miskin seperti saya bisa menikah? Jaman sekarang gitu lho, nikah itu biayanya mahal. Belum lagi mahar, buat walimahan, biaya tetekbengek lainnya. Apalagi si Alga Biru tinggalnya jauh di seberang lautan, perlu berapa duit bakal ongkos ke sana? Apakah bisa orang macam saya ini menikah? Saya ragu!!!

Tapi saya kembali kepada keyakinan bahwa Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dia berjanji bahwa Dia pasti akan menolong orang yang ingin menjaga kemuliaan dan kehormatannya. Dan dia tidak akan pernah mengingkari janjinya. Salah satu hal yang juga menguatkan saya adalah kisah menikahnya Ali bin Abi Thalib ra dan Fatimah binti Rasulullah yang diceritakan oleh Abay Abu Hamzah. Ali bin Abi Thalib ra. pun miskin ketika menikah dengan Fatimah. Beliau hanya punya harta baju zirah, dan baju zirah itulah yang dijadikan mahar. Setelah baju zirah itu diserahkan, beliau tidak punya apa-apa lagi. Subhanallah…!!!

Siapa Alga Biru memang belum pernah saya kenal. Tapi saya tahu bahwa dia seorang perempuan yang baik karena dia mengajak kepada kebaikan, yakni mengajak menikah. Saya berpikir bahwa ini adalah amalan mulia yang dahulu pernah dilakukan oleh Khadijah istri Rasulullah S.A.W. Dahulu, Khadijah pun mengajak menikah kepada Rasulullah Muhammad S.A.W. Saya juga mengetahui bahwa Alga Biru adalah seorang aktifis Islam ideologis. Rasulullah menyatakan dalam salah satu hadisnya, jika kita memilih seorang perempuan karena agamanya, maka kita akan bahagia selamanya. Maka saya mencukupkan diri dengan hal itu.

Saya sampaikan kepada Alga Biru, bahwa saya akan berjuang untuk menikah dengannya. Saya akan berjuang untuk datang ke Medan untuk melamarnya kepada orangtuanya. Padahal saat saya berkata seperti itu, saya tidak punya ongkos sama sekali. Dan setelah semuanya itu, saya tetap tidak tahu seperti apa sosok Alga Biru.

Sejak saat itu, kami telah memilih satu sama lain, saya memilih dia, dia pun memilih saya. Kami pasrahkan pilihan itu kepada Allah, dan kami saling berjuang untuk pilihan kami itu.

Suatu kali, sebelum saya berangkat ke Medan, Alga Biru bilang pada saya bahwa dia akan mengirimkan fotonya lewat email. Tapi saya menolak. Saya katakan padanya bahwa saya  memilihnya karena akhlak dan agamanya, kalau dia mengirimkan fotonya kepada saya, saya khawatir niatan saya jadi berubah. Saya khawatir yang tadinya saya memilihnya karena akhlak dan agamanya, jadi berubah karena saya telah mengetahui seperti apa wajahnya. Maka saya menolak fotonya itu. Biarlah saya melihat seperti apa sosok Alga Biru ketika saya sampai di rumahnya di Medan. Saya menyiapkan hati saya untuk menerima seperti apapun keadaan si Alga Biru. Bisa jadi kupingnya ada dua, atau lubang hidungnya ada dua, atau matanya ada dua (ya iyalah), dan saya mesti menerima seperti apapun sosoknya. Namun Alga Biru memberitahu saya bahwa dia tetap mengirimkan fotonya itu. Dan foto itu tersimpan di email saya tanpa saya buka-buka.

Allah swt memberi saya jalan keluar. Menjelang waktu keberangkatan saya, pintu-pintu rizki terbuka, dan saya dapat ongkos pulang pergi dari jalan yang nggak pernah saya duga. Menjelang saya berangkat, secara tidak sengaja, akhirnya saya melihat juga sosok Alga Biru lewat fotonya. Ketika itu seorang rekan saya ingin tahu akhwat yang akan saya lamar. Maka saya bukakan email saya agar fotonya bisa dia lihat. Sementara saya sendiri menyingkir, sebab saya tetap tidak ingin melihat foto si Alga Biru. Waktu solat pun datang, saya minta rekan saya itu untuk menutup file nya. Dia pun melakukannya. Setelah saya mengecek lagi komputernya, ternyata dia tidak benar-benar menutup file nya, tapi cuman di-minimize doang. Akhirnya ketika saya ambil alih komputernya, terhamparlah fotonya si Alga Biru. Alhamdulillah, Allah menganugerahkan pasangan yang baik dalam banyak hal. Baik sosoknya, baik perangainya, baik tuturkatanya, dan baik agamanya.

Di atas jalan cita-cita yang saya tempuh itulah saya menemukan pasangan hidup. Kami pun menikah tanggal 18 Juni 2011 di Medan. Melalui Alga Biru, Allah menganugerahkan saya dua orang anak perempuan yang cantik-cantik dan lucu-lucu.
Allah subhanahu wata’ala memang telah menyiapkan siapa jodoh kita. Tapi Allah tidak akan pernah memberitahukan siapa jodoh kita itu. Karena itulah kita mesti memilih. Dan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam telah memandu kita dalam menentukan pilihan itu. Kita boleh memilih pasangan karena kecantikannya, atau karena kekayaannya, atau karena keturunannya, dan jika kita memilih karena agamanya, kita akan bahagia selama-lamanya. Jika kita telah memilih seseorang, dan orang itu pun bersedia memilih kita, maka berdoalah kepada Allah dan perjuangkan orang yang kita pilih itu sekuat tenaga. Jodoh pasti bertemu, insya Allah.


 Zeki R.A.

     Alga Biru adalah seorang dokter gigi lulusan Universitas Sumatera Utara. Sudah lama sekali saya mencari inspirasi terbaik untuk mewujudkan cita-cita saya menjadi dokter gigi dan penulis. Akhirnya saya mendapatkan sosok contoh rujukan terkait impian ini. Cerita di atas ada yang sangat menyentuh hati saya, yaitu sosok Lelaki yang sabar dan tawakal yang berserah pada Allah. Bagian ini yang membuat saya hampir menangis. Saya tidak bisa bayangkan jika keadaan Lelaki di atas terjadi pada saya. Kere, ditolak dengan menyakitkan, dan memutuskan mencintai serta nikah dengan cita-citanya. Lelaki ini sangat beruntung mendapatkan drg. Dian A. Hasibuan ini, dengan alasan ketabahan hatinya untuk menghadapi kehidupan yang dia jalani hanya untuk sebuah impian dan cita-cita. Banyak orang yang hanya terfokus pada cinta saja, ingin menjadi pengantin, memiliki pasangan idaman, dan hidup berumah tangga bahagia. Tapi Lelaki di atas lebih memilih teguh pada kontribusi terbaiknya untuk Islam, lewat media tulis yang dia kuasai. Tetap berpegang teguh pada islam ideologis. Meyakinkan pada diri kalau Allah dan surga saja sudah cukup. 
Ini adalah pesan yang saya kirim pada drg. Dian. 
Senang sekali rasanya membaca pesan ini. Kata "Iya ukh." membuat saya terharu, seakan-akan kami sudah berteman lama saja. Saya tahu alasannya, karena kami sama-sama memiliki mabda islam (in syaa Allah). Makanya ikatan ideologis inilah yang membuat kami tidak pernah merasa asing selama kami berada dalam ideologi yang sama.
"Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran (yang telah kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit." Sayyidina Ali bin Abu Tholib 
      Sudah lama sekali saya ingin menemukan aktivis da'wah yang berprofesi di bidang yang sama dengan saya. Saya mungkin belum tentu mendapat balasan lagi dari kak Dian, tapi itu saja sudah cukup. Saya sudah sangat senang bisa memberitahu keadaan saya dan kedokteran gigi di sini pada kak Dian. Mudah-mudahan misi saya untuk meratakan FKG UNLAM dengan islam kaffah bisa terwujud. Kalau bisa saya juga akan nikahi semangat mimpi menjadi dokter gigi dan sekaligus penulis demi berjuang di jalan da'wah ini. Hanya untuk jalan da'wah ini. Tak disangka, Lelaki di atas yang tadinya ingin menikah dengan mimpinya saja malah di beri Allah kado terbaik yaitu orang yang shalihah dan mampu mewujudkan impian itu bersama-sama. Semoga tulisan ini benar-benar jadi rujukan energi untuk saya, supaya saya bisa selalu pada kebaikan dan Allah saja. Semoga saya tetap gigih terus berfokus pada cita-cita saya dan Allah sampai mati syahid nanti. Aamiin yaa robbal'alamiin.  

Selasa, September 16, 2014

Proposal Kehidupan Revisi1

Bismillahirrahmaanirrahiim ^_^


Assalaamu'alaykum. wr. wb.

Alhamdulilliah.. Segala Puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kehidupan saya hari ini, di setiap detik dan langkah saya yang penuh ni'mat dan kesempatan ini. Shalawat dan salam saya sampaikan kepada  Nabi Muhammad SAW, yang membawa satu buah ajaran kaffah dan sempurna di jagad raya ini.

TOLONG BACA SAMPAI AKHIR, JANGAN SETENGAH-SETENGAH, SAYA TAKUT KALO ANDA SALAH PAHAM..

            Tanpa Bermaksud sombong ataupun takabur… Saya tuliskan beberapa bait langkah-langkah kehidupan saya di dunia. SEKALI LAGI TOLONG jangan salah paham memandang inilah adalah kesombongan saya, tapi jadikan ini sebagai cacian jika saya gagal meracik bumbu-bumbu kehidupan ini, kemudian bangkitkan semangat saya, ingatkan saya bahwa ada janji dan target-target hal yang harus saya tepati di dunia ini.
Ini adalah sejumlah cara agar saya bisa menciptakan resep original kehidupan saya menjadi sebuah hidangan dengan cita rasa terbaik yang akan saya nikmati hingga kelak akan ditunjukkan dan menikmatinya bersama orang tua saya diakhirat. Masing-masing  perencanaan dibawah ini, mungkin akan menghasilkan hidangan yang sederhana yang akan saya nikmati, lewat bahan dasar berupa iman takwa dan bumbu-bumbu semangat motivasi meraih surga kelak. Ini juga adalah hal yang bisa saya lakukan sebagai Agent of Change, sembah saya kepada Yang Maha Kuasa, manusia biasa namun dengan resep yang berbeda! PROPOSAL KEHIDUPAN released!


Nama (Insya Allah) : Hj . Prof. DR. drg. Riski Agustin, Sp. Ortho/Pedo, Ph.D

2014:   Lulus KTI Kedokteran Gigi dengan nilai A

2015:   S. Kg, Dokter Gigi Muda RSGM Gusti Hasan Aman
Menikah dengan laki-laki (dokter umum/masih coass) aktivis da’wah luarbiasa yang setia, sholih, cerdas, dan rapi. Jika lebih beruntung kalo bisa berpengelihatan normal/ tidak berkacamata dan Good looking. Tapi perlu diingat, ini kan cuma proposal :D *perasaan ini yg penjelasannya paling panjang*
Februari : Hapal Al Qur'an Juz ke-30

2015:   Hapal Al Qur'an 3 Juz

2015-2016:   Co-Ass
  
2016:   Hapal Al Qur'an 5 Juz

2017:   Dokter Gigi dan PNS

2017:   Kuliah Spesialis Orthodentia/Pedodotia (suami yang menyetujui untuk memilih yang mana). 

2018:   Membuat usaha butik syar’i gaya minimalis.

2018:   Hapal Al Qur'an 10 Juz

2019:   Pergi Ke Baitullah, Haji yang Mabrur bersama kedua orangtua.

2019:    Hapal Al Qur'an 15 Juz

2020:   Menjemput Kebangkitan Khullafaurrasyiddin, Insya Allah

2020:   Hapal Al Qur'an 20 Juz

2021:   Hapal Al Qur'an 25 Juz

2022:   Hapal Al Qur'an 30 Juz

2023:   Dokter Spesialis Orthodentia/Pedodontia 

2024:   Memiliki Tempat Praktek Sendiri dan memiliki toko dental

2027:   Hafizhah, yang sudah melakukan pencapaian memiliki Anak Shalih (Laki-laki) dan Shalihah (Perempuan) penghapal Al Qur'an.

2027:   Dosen di FKG dan Ustadzah

2028:   Aktif di PDGI dan Instansi Pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Kalsel

2028:   Kuliah S3 di Cambridge UK atau S3 di Jepang

2030:   Doktor

2031:   Peneliti bidang Ortodentia/Pedodonti dan Imunologi

2032:   Mendirikan Langgar dan Perpustakaan

2033:   Fokus Pendalaman Da'wah dan Penelitian

2038:   Professor

2040:   Tugas Duniawi selesai Insya Allah

2050:   Mati Syahid di jalan Islam dalam keadaan baik di akhir!



2011;
Mengikuti Seminar Islamic minimal 3 kali (acc)
Panitia Kegiatan minimal 1 kali (acc)
Mengetahui Sistem BSO UNLAM, Focusing for the weakness (acc)
Pendalaman Bahasa Arab (progress)
Liburan = Persiapan Materi kuliah tuk semester 2 (/)
Masuk LKMM (acc)


2012 ;
Megikuti Seminar Islamic minimal 5 kali (acc)
Panitia LDKM (acc)
Panitia Inti di Kegiatan Motivation Training 2013 (acc)
Memperbanyak kosakata English+Jepang dengan nonton anime sub (acc)
Liburan = Pendalaman materi klinis kedokteran gigi, pendalaman bahasa arab (/)
Persiapan PKM-P & PKM-GT (/)
Rutin puasa senin kamis (/)
Rutin menjadi mentor adik tingkat (acc)


2013 ;
PKM GT didanai (acc)
PKM K didanai (acc)
Pengurus inti KSI Akhwat (Mas'ul Akhwat, acc)
Launching buku pertama (sebenarnya Buku KSIA yg sebatas kontribusi tulisan di dalamnya, tapi biar saja anggap acc)
Pembicara di acara Motivasi (acc)
Pendalaman Bahasa Arab + Jepang (progress)
Punya Penghasilan sendiri minimal 250rb (acc)
Liburan = Pendalaman materi klinis kedokteran gigi, pendalaman bahasa arab (/)
Rutin puasa senin kamis (/)
Rutin tahajud (/)


2014 ;
Mahasiswa Berprestasi PSKG (acc)
KTI : A, Lulus dengan Predikat MahasiswaBerprestasi
Persiapan Co-ass dan ta’aruf
Rutin puasa senin kamis
Rutin tadarus dan murojaah
Hapal Al Qur'an Juz 30
Rutin tahajud
Sukses pandai memasak 1 resep buatan sendiri XD *more eksperimen
Sukses pandai memasak 8 resep sayur
Sukses pandai memasak 9 resep olahan daging
Sukses pandai memasak 9 resep kue kering dan dessert
Sukses pandai memasak 3-4 resep cake

 
2015;
Menjadi penulis
Launching buku kedua
Khatam buku-buku terkait rumah tangga (pernikahan) islami dan mengamalkannya
Lulus PANUM dengan nilai terbaik di kelas
Menjadi 'adlo MHTI
Pembicara pada acara dakwah FK
Rutin sholat tahajud
Rutin puasa senin kamis
Rutin tadarus dan murojaah
Hapal Al Qur'an 3 Juz
Membaca buku mininal 2 buku dalam 1 bulan
Penghasilan bisnis minimal 1 juta per bulan (kotor)
Agustus: Menikah dengan laki-laki yang mencintai dan mengkhitbah saya duluan, dengan beberapa pertimbangan juga.





2016;
Lancar koass banyak pasien
Nilai selalu di atas 75/ B+ ke atas
Launching buku ketiga dan ke empat
Istiqomah menjadi anak dan muslimah bagian dari rumah tangga yang shalihah
Pembicara pada acara dakwah FK
Rutin sholat tahajud
Rutin puasa senin kamis
Rutin tadarus dan murojaah
Hapal Al Qur'an 5 Juz
Membaca buku mininal 2 buku dalam 1 bulan



2017;
Lulus jadi dokter gigi dengan nilai terbaik
Launching buku ke lima terkait ilmu kedokteran gigi
PNS
Mendapatkan surat izin praktek
Pengabdian dokter gigi
Melahirkan anak laki-laki
Persiapan pendidikan S2 atau spesialis tergantung peluang beasiswa
Mengisi waktu dengan menjahit
Rutin sholat tahajud
Rutin puasa senin kamis
Rutin tadarus dan murojaah
Membaca buku mininal 2 buku dalam 1 bulan

 
2018;
Melahirkan Anak perempuan
Membeli mobil dengan uang hasil saya sendiri
Launching buku ke enam terkait ilmu kedokteran gigi
Launching buku ke tujuh terkaitan islam ideologis
Rutin sholat tahajud
Rutin puasa senin kamis
Rutin tadarus dan murojaah
Membuka usaha butik syar’i gaya minimalis
Membuka praktek dokter gigi 
Pendidikan S2 atau spesialis
Hapal Al Qur'an 10 Juz
Membaca buku mininal 2 buku dalam 1 bulan


Inilah proposal kehidupan saya untuk 4 tahun terakhir, ingatkan saya saat saya mulai futur dan hampir gagal, saat saya lupa, maupun saat saya lalai serta apabila saya ingin ingkar darinya.
Semangatkan saya, beri saya dukungan kawan--bahkan caci-maki agar saya selalu ingat kalau ada proposal yang harus saya wujudkan. Doakan saya kawan..
Usaha dan energi saya untuk merencakan, Allaah sebagai penentu dan anda-anda yang meng-aamiin-kan pasti disambut para malaikat dengan doa “semoga begitu juga dengan kamu” :) aamiin yaa robbal’alamiin.

Wassalamu'alaykum. wr. wb.






                                                                                                                                    Banjarmasin
        Tertanda,                                                                                                             Disetujui,






        




     

        Riski Agustin                                                                                                     Allah swt



Selasa, September 10, 2013

Tersesat di Jalan yang Benar

Bismillahirrahmaanirrahiim ^_^



Tersesat di Jalan yang Benar
(By Zeki R.A. Riski Agustin PSKG 2011)




Rara
           
Di sudut gedung informatika aku santai – santai dengan headset sambil komat – kamit sendirian. Kadang – kadang aku dikejutkan oleh beberapa kejadian di depanku yang sekarang terjadi—ada kucing yang mencakar satu sama lain di dekat kursi tempatku duduk. Well, lebih baik aku pergi saja mencari tempat yang lebih aman karena sesaat aku baru sadar kalau dua ekor kucing tadi betina dan jantan yang artinya…
            Kakiku melangkah melewati semen jalur jalan menuju tempat yang tenang. Dari kejauhan Anggi menatap sambil berjalan ke arahku.
“Ra, ke mana saja kau? Gabung yuks!”
“Ogah, mau belajar nih.”
“Buset, rajin amat.”
“Hehe.”
Berlalu Rara di antara teman-temannya dan mulai belajar lagi kisi – kisi soal SNMPTN. Rara memiliki cita-cita menjadi dokter dan lewat jalur masuk PTN inilah dia akan meraih impiannya.
***
            Pengumuman Ujian Nasional sudah keluar. “Mutiara Muslimah, dinyatakan tidak lulus/lulus Ujian Nasional.” Itulah tulisan yang diterima Orangtua Rara kemarin, mereka sangat senang dan bersyukur puterinya berhasil menyelesaikan pendidikan SMA. Hari ini adalah hari yang berbeda karena hari ini merupakan pengumuman kelulusan PTN. Rara buru-buru mencari info di internet tentang kelulusannya, merasa berdebar-debar sekaligus penasaran dan takut mengenai kelulusannya. Rara membuka situs pengumuman masuk PTN dan ternyata…
            “Ibu…” Rara berseru sambil berlari ke arah dapur. “Rara gagal masuk kedokteran, Bu.” Ternyata Rara mulai menangis.
            “Tak apa nak, mungkin jurusan yang Rara pilih itu belum tentu yang terbaik untuk Rara.” Sang ibu menghibur Rara. “Bagaimana dengan pilihan kedua yang Rara pilih? Apakah tidak masuk?”
            “Masuk Bu, tapi Rara tidak menyukainya. Rara maunya jadi dokter Bu.” Rara tetap menangis dan merasa kecewa. Namun apa boleh buat, ini artinya Rara akan belajar di pilihan keduanya dalam tes PTN tersebut yaitu Kesehatan Masyarakat. Tidak ada jalur lain yang bisa Rara tempuh untuk mengambil kesempatan masuk kedokteran karena hanya jalur inilah yang dikira ‘mampu’ bagi kedua orangtua Rara memasukkan anaknya ke bangkuu kuliah.
           



Zeki R.A.
Ada banyak faktor yang menyebabkan kau merasa kurang percaya diri dengan Prodi yang kau tempati—atau merasa biasa-biasa saja dibanding Prodi lain—atau malah merasa ‘lebih’ dari Prodi lain dan menjadi sombong karenanya. Untuk saat ini, mari kita bahas jika keadaannya sesuai dengan cerita fiksi Rara. Ingat! Ini cuma fiksi dan fiksi itu adalah seni dalam menulis—jadi tak apa jika kita mengambil pelajaran bermanfaat darinya khaan :P.
Saat kau menginginkan sesuatu, ini biasa di sebut dengan impian. Tapi nasibmu berkata lain. Apalah arti sebuah takdir bagimu. Kau menangis dan meratapi kegagalan perjuanganmu dengan bersedih. Apapun akan kau usahakan—dari belajar, berdo’a, solat sunnah, minta restu dan dukungan orangtua pula. Lalu bagaimana jika keadaannya lain? Misalnya kau menginginkan masuk Fakultas Kedokteran Prodi Pendidikan Dokter pada jalur SNMPTN dan Prodi Kesehatan Masyakat di pilihan kedua dan ternyata lulus di pilihan kedua. Saat itulah kau merasa sangat sedih dan seakan–akan Tuhan tak adil padamu karena sesunggunya kau ingin sekali menjadi dokter. Dengan bergitu kau menerima saja kuliah di jurusan tersebut walau perasaanmu jauh dari rasa senang hati dan tidak begitu ‘sehati’ pada Prodi yang kau tempati sekarang—atau bahkan kau merasa kurang percara diri bahkan tidak suka terhadap tempatmu sekarang.
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al Baqarah 216).”
            Apa yang kau inginkan belum tentu adalah yang terbaik bagimu. Begitu juga hal yang kau ogah menjalaninya belum tentu buruk untukmu. Sedih, gagal, kecewa adalah bagian dari hidup tapi tak selamanya begitu.
Well, bingkai ulanglah situasimu di Prodi yang kau tempati sekarang—akan selalu ada situasi yang lebih buruk yang bisa kau pikirkan namun dengan membingkai ulangnya ini akan membuatmu segera merasa lebih baik. Analisa mengapa kau gagal dan bagaimana kau dapat mengambil pelajaran ke depan untuk membawa dirimu selangkah lebih dekat dengan tujuanmu, contohnya kau kuliah dimanapun tidak masalah kau hanya perlu membuat orangtuamu bangga dan bahagia—jangan fokus pada ‘gagal’—fokus saja pada apa yang akan kau ubah. Sukses dinilai tidak pada seberapa cepat kau berhasil tapi seberapa cepat kau pulih, maka bangunlah dan terus berjalan.



Rara
Parkiran kampus sudah mulai padat dengan motor – motor mahasiswa mahasiswi FK. Termasuk motor dosen juga. Motor analis juga. Motor admin. Motor petugas gedung. Semua – muanya pokoknya. Para maba (baca: mahasiswa baru) sudah mulai sibuk dengan acara P2B mereka. Rara satu kelompok dengan kelima Prodi yang ada di FK ini. Seminar gedung depan sudah hampir dimulai—para panitia menyuruh maba masuk ke Aula utama untuk menerima materi dari Dekan. Di kelompoknya, Rara duduk – duduk santai mendengar cerita Prodi lain yang sedang menceritakan mata kuliah mereka.
“Kalau di Prodi mu, ada tidak mata kuliah *tiit* (sensor)? Eh, siapa namamu? Aku Yopi dari Prodi *tiit* (sensor).” Ternyata mereka menyadari kalau Rara sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku Rara. Dari Prodi KesMas. Emm, tidak ada.” Jawab Rara.
“Oh, kalau kami ada. Kan seorang dokt*r itu harus memahami struktur tub…”
Rara memalingkan wajahnya dan pura – pura teringat sesuatu yang penting terhadap teman satu Prodi di sebelahnya. Sehingga pembicaraan dari ‘anak’ Prodi lain tadi ‘secara tidak langsung’ tidak diacuhkannya.
“Arin, kemarin admin ada titip pesan ke Koti kita tentang…
***
Cerita kita skip dulu. Seminarpun berakhir dan Rara kembali ke barisan teman – teman satu Prodinya. Hal yang paling Rara ingat saat pengarahan dari seminar tadi adalah ucapan Dekan yaitu…
“Kalian adalah satu Fakultas, satu keluarga—sama tujuan, sama pengabdian, yaitu kepada masyarakat. Tidak ada yang dilebihkan maupun dikurangkan—karena kalian anak – anak kebanggaan yang tiap – tiapnya bergerak di bidang masing – masing dalam meningkatkan kesehatan masyarakat kita. Maka kita menjadi teman sejawat yang saling menghormati di bidang masing – masing. Jadilah mahasiswa yang terus membanggakan Fakultas dan yang paling utama—membanggakan kedua orangtua.”
Rara setuju dengan kalimat beliau—walau Rara juga sedikit terganggu dengan sikap anak Prodi lain tadi yang kesannya ‘koyo’ atau ‘pamer’ terhadap Prodinya sendiri—ditambah rasa sedih Rara yang merasa payah tersesat di Prodi yang ditempati sekarang. Rara mulai sadar dan mengerti bahwa Prodi inilah yang terbaik baginya—yang penting bisa membuat orangtua bahagia dan tetap melakukan amal kebaikan terhadap masyarakat di bidang kesehatan. Rara berjalan sendirian di antara orang – orang yang bubar.
“Sukses adalah kemampuan untuk melangkah dari kegagalan ke kegagalan tanpa kehilangan antusiasme Anda (Winston Churchill).”
“Ra, kau kelompok berapa P2B? Di kelompokku ada lho anak Prodi lain yang terus – terusan bicara seputar Prodinya—iya kalau gantengnya keterlaluan—ini sombongnya keterlaluan, ‘koyo’ mampus Ra. Ogah banget deh diajak bicara.” Teman Rara menepuk dari belakang.
“Oh. Iya San. Biarkan sajalah.” Namanya Santi, orangnya mudah akrab dan suka bercerita—juga gaul.
“Makanya Ra, huh.” Santi masih cemberut.
“Sudah, ingatkan apa kata Dekan tadi?”
“Betul juga…”






Zeki R.A.
            Well, jika kau sudah berada di Prodimu yang tercinta—bersama orang baru, teman baru, lingkungan baru—pastilah membutuhkan sebuah adaptasi dan pembiasaan. Dari cerita Rara tadi kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang mungkin bisa bermanfaat sebagai tips agar kau bisa merasa it’s great berada di Prodi yang kau tempati sekarang.

-Bersyukur-
Bersyukurlah kau berada di Fakultas Kedokteran UNLAM tercinta ini. Masih banyak orang yang menginginkan kuliah di sini tapi tidak bisa. Atau bahkan masih banyak yang ingin kuliah tapi tak bisa kuliah—bahkan lebih baik lagi jika kau seperti Rara yang awalnya merasa tersesat di Prodi yang tidak sehati dengannya namun lebih baik ketimbang menjadi orang yang cendrung memamerkan Prodinya (hehe, intinya kita berlomba – lomba dalam kebaikan), hanya begitu saja sudah sombong, bisa – bisa pasienmu antipati. Jangan yaa :)

-Ingat niatmu apa?-
Sama seperti Rara tadi, kuliah semata – mata karena Allah dan ikhlas menuntut ilmu karena-Nya—hanya ingin mengabdi kepada masyarakat dalam bidang kesehatan dan semata – mata ingin membanggakan orangtua. Di manapun kau kuliah—di Prodi manapun, itu adalah titipan Allah untukmu, sebagai wasilah dalam melakukan kebaikan.

-Bangga lah!-
Bangga bukan berarti sombong. Silakan lihat di KBBI, beda kan artinya? Nah, jadi bangga saja dengan Prodimu. Kita hanya perlu percaya diri dengan ilmu yang didapat dari Prodi kita untuk kesejahteraan ummat, lewat bidang kita masing – masing.

-Bukan jaminan-
Masuk di Prodi ini, Prodi itu, Prodi anu, bukan jaminan kau masuk surga—siapa sih yang tidak mau masuk surga? Nah, masuk surga aja belum tentu apalagi kesuksesan, kekayaan dan kebahagiaan.

-Ayo jalani dan kembangkan sayapmu!-
Jalani kehidupanmu di Prodi ini, ikutilah dan nikmatilah arus kegiatannya—bersenang – senanglah, Jalani perkuliahannya dengan semangat dan iman. Tapi jangan juga terlalu santai atau malah kelewat rajin belajar demi dapat IP 4 sehingga melupakan organisasi. Organisasi juga penting. Ada yang slogan hidupnya ‘mengalir begitu saja’ padahal itu bukan SLOGAN, itu SELOKAN. Namanya orang sukses itu menentukan arusnya sendiri, tidak harus mengikuti arus orang lain. Ikutilah BSO (Badan Semi Otonom) bermanfaat yang bisa membuat kau menjadi luarbiasa dunia dan akhirat atau bahkan ikut organisasi luar kampus seperti Angkatan Muda Al Baythar lalu kembangkanlah sayapmu! Contohnya organisasi da’wah. Sip? :)
            Sampai sini kita bisa menyimpulkan bahwa mungkin saja jalan yang Rara hadapi bukanlah jalan yang sedikitpun pernah ia bayangkan—bahkan tidak diinginkan, Rara merasa tersesat—tapi mungkin saja jalan tersebut adalah jalan yang benar dan baik baginya yang Allah sediakan untuknya. Maka berbanggalah! Teruslah berada di jalan yang benar.
 

Thanks for reading :)

Total Pageviews

ZEKI R.A.. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Small Pencil